Mahasiswa Pada Gak Paham Aplikasi MVP
Padahal kalo paham pasti gak bingung bikin aplikasi sederhana

Tech writer and lecturer from Indonesia who is passionate about backend technology.
I ensure that 99% of my content is written in Indonesian because I aim to encourage Indonesian tech enthusiasts to write and share their knowledge.
I often provide guidance to IT students in Indonesia, emphasizing the importance of continuous learning. Don't waste your post-campus life by doing nothing. Read, learn, and study more to become better professionals in the tech industry!
Ketika kuliah terutama jurusan IT, pasti mahasiswa bakalan pernah ngalanin tugas besar. Ya, tugas besar itu adalah tugas yang mana bisa dikatakan sebuah proyek.
Ketika membuat sebuah proyek, kita pasti mikir fitur apa yang perlu dibuat. Misalnya, kita buat aplikasi pencatatan kesehatan. Secara teori, fitur apa yang sekiranya harus ada? Udah pasti fitur pencatatan kesehatan. Kita bisa menampilkan data kesehatan secara berurutan yang ditampilkan dengan cara sederhana, yaitu tampilan daftar (list) menggunakan tabel.
Tapi sayangnya, banyak mahasiswa yang nggak paham ketika membuat aplikasi. Banyak yang berpikir bahwa ketika kita membuat aplikasi baik itu web maupun mobile, fitur pertama yang harus selesai adalah autentikasi, karena yang ada di gambaran mereka, login adalah screen pertama yang mereka tabrak.
Padahal, yang paling penting dari aplikasi adalah CRUD atau yg kita kenal dengan istilah (create, read, update, dan delete). Makanya kalau kita belajar tutorial coding di internet, hampir belum pernah saya temukan dimana tutorial autentikasi berada pada bagian awal bahkan sebelum CRUD (kalau ada tolong info saya). Pasti CRUD itu lebih dulu posisinya, tau kenapa? Karena untuk membuat fitur autentikasi pun bisa mengimplementasikan konsep CRUD, yaitu CREATE (register) dan READ (login).
Banyak mahasiswa yang malah sibuk ngurusin fitur login untuk diselesaikan duluan daripada menyelesaikan MVP dari aplikasinya. Padahal, MVP dari aplikasi jelas lebih penting, karena dengan MVP, aplikasi kalian udah bisa dianggap "hampir selesai".
Btw, kita gak lagi ngomongin MOST VALUABLE PLAYER disini, ini bukan mobile legends, dude. Kita ngomongin Minimum Viable Product.
A minimum viable product (MVP) is a version of a product with just enough features to be usable by early customers who can then provide feedback for future product development
- Wikipedia
Artinya, kamu cukup membuat aplikasi yang fitur dasarnya aja udah bisa digunakan dan menggambarkan aplikasi kalian. Gak harus aplikasi yang sempurna dengan banyak fitur, cukup aplikasi yang usable.
Artinya, ketika kalian ngomongin "saya bikin aplikasi pencatatan barang", kalau aplikasinya gak bisa mencatat, melihat, menghapus, dan melakukan perubahan terhadap barang, ya apa layak disebut MVP? Kalau aplikasinya baru bisa fitur login doang, apa layak disebut aplikasi pencatatan barang?
Kalian terutama para mahasiswa saya boleh benci saya dengan kalimat-kalimat ini, tapi yang saya sampaikan adalah 100% fakta, just take it.
Respon yang lumayan sering saya dapet disini adalah:
"tapi pak kalo gaada login kan susah nanti gakbisa masuk appnya"
Lah kan kalian bisa ngelakuin tiga cara ini untuk ngakalin:
Bikin data usernya di database, kemudian id usernya statis dibuat hard code ketika mau melakukan CRUD supaya ngisi id usernya, misalnya 1.
Bikin supaya kolomnya gapapa nerima tanpa user id terlebih dahulu.
Bikin sessionnya dengan hard code supaya diisi langsung dengan id user yang kita mau.
Apa susahnya? ya yang susah itu cara berpikir mahasiswanya, bukannya mahasiswa itu harus kreatif? Justru definisi kreatif adalah ketika bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang minim namun tepat guna, misalnya tiga solusi di atas. Bukan ngakalin biar gak pake table user, apalagi ngakalin biar gak konek database.
Contoh lain, kalian misalnya membuat aplikasi pemesanan makanan. Secara teori, harusnya aplikasinya mengharuskan untuk login, tapi karena kalian kepepet gak ada waktu tersisa, akhirnya kalian membuat flow appnya agar bisa order terlebih dahulu, tapi data tujuan alamatnya, harus selalu di-input secara manual. Kenapa? Ya karena kan gak ada usernya.
Apakah acceptable? Imo, yes. Aplikasi kalian belum ada fitur login, tapi data order masuk ke database. Meskipun secara requirement bisa jadi tidak memenuhi karena gak ada autentikasi, but it's still acceptable.
Coba bayangin kalau aplikasi pemesanan makanan itu ada fitur login dan register, tapi pas lagi order nggak masuk ke database. Masuk akal nggak? Jelas enggak! Maka, ngapain ngabisin waktu untuk bikin aplikasi yang nggak masuk akal? Lebih baik bikin yang lebih sederhana, tapi masuk akal.
Menurut saya, beberapa alasannya kenapa mahasiswa ngelakuin ini adalah sebagai berikut:
Mahasiswa punya idealisme, tapi gakpaham gimana caranya.
Mahasiswa pengen tampilan bagus, tapi gak paham bahwa tampilan bagus itu tidak menjamin fungsinya berjalan baik.
Mahasiswa ngga fokus ke MVP, mereka pengennya memuaskan ego pribadi.
Mahasiswa ngga mau nanya, padahal mereka dikasih kesempatan nanya.
Mahasiswa fokus untuk ngeliat bagaimana membuat sebuah aplikasi di youtube tanpa paham kenapa itu bisa berjalan.
Padahal dengan membuat aplikasi yang fokus ke MVP, mahasiswa bisa meningkatkan kemampuan dasarnya.
Saya pernah punya mahasiswa dan mahasiswi yang bawel, hampir di setiap minggu mereka nanya, diuber-uber lah saya sampe depan pintu kelas, yang ditanyakan pun adalah hasil dari effort dia, misalnya dia konsul apakah proyek tugas besarnya bisa pake library a/b, gimana approaching memanfaatkan konsep cart pakai shared preference. Hasilnya gimana? Jelas memuaskan!
Kenapa? Karena mereka ngerjainnya tekun gak asal jadi, mereka benar-benar memahami how-to, bukan buru-buru mau jadi.
Nonton Youtube Boleh, Tapi....
Nggak sekali dua kali saya melihat beberapa proyek mahasiswa saya menggunakan hasil dari youtube, apakah boleh dan sah? Imho, yes, sah-sah saja.
Masalahnya adalah, mereka gak paham alurnya dan gimana kerjanya itu aplikasi. Karena youtube tidak memberikan pencerahan terkait kenapa pake cara x, kenapa gak pake cara y. Mereka cuma ngoceh sambil bikin aplikasinya terus aplikasinya jadi.
Dengan cara ini, mahasiswa bisa menyelesaikan masalah utama mereka, yaitu menyelesaikan proyeknya, tapi apa masalahnya? Mereka gak menyelesaikan masalah utama mereka: ketidaktahuan.
Beberapa yang saya temui, hanya sekedar mengikuti aja apa yang si youtuber bilang atau kerjakan. Ibarat mahasiswa malah seperti bebek yang ngikutin gembala, bebek mau aja ngikutin gembala kemanapun mereka ikut, tanpa tahu dan peduli kenapa harus kesana.
Saya gak sekali dua kali bilang selama di kelas: "teman-teman, fokuslah untuk memahami kode yang kalian pelajari selama pertemuan kita, jangan fokus ke tampilan. Ya, memang tampilan yang bagus memuaskan mata, tapi kalo gak ngerti apa guna?" . Rasanya masih saja bagi mahasiswa merasa bahwa membuat aplikasi yang tampilannya keren itu bisa memuaskan ego mereka. Sejak zaman mahasiswa, saya gak pernah muasin ego pribadi saya, pokoknya fiturnya sesuai, udah.
Sebenernya yang paling mengkhawatirkan dari nonton youtube adalah, cara yang orang-orang youtube lakukan, bisa jadi gak best-practice dari apa yang saya ajarkan di kelas, yang malah membuat mereka tambah bingung, dijamin!
Saya pribadi ngeliatin beberapa code yang nonton youtube, kepala saya tambah pusing liatnya. Karena orang-orang yang bikin code di youtube ini, gak menjamin bahwa code dia ini akan readable dan easy to learn. Kalo bagi mereka, ya jelas, mereka kan yang buat. Sedangkan saya aja kalo mau bikin materi tutorial untuk mahasiswa saya, bisa berkali-kali saya baca sebelum saya tulis, saya memastikan ini cara paling simple dan mudah dicerna.
Udah saya pastikan paling simple aja, masih ada yang dateng ke hadapan saya bilang "Jujur saya belum paham pak" ketika lagi presentasi tugas besar. Sontak yang ada di kepala saya adalah:
"LOE DARI KEMARIN KEMANA AJA BOSKUUUUUU, KENAPA PAS DITANYA ADA PERTANYAAN APA GAK JAWAB!!!! ๐คฌ๐คฌ๐คฌ๐คฌ"

Tapi saya paham, kan gak semua anak juga cerdas, mungkin sayanya yang kurang deket, jadi saya bisa kasih pengertian. Saya selalu bisa kasih second chance, tapi tidak dengan dunia, jadi otomatis kena ceramah no jutsu dari saya, mendadak saya jadi naruto.

Apakah orang-orang ini akan berubah? Who knows, we'll see later.
Mentalnya Gak Lanang...
Ini agak pria-sentris ya, tapi jujur, saya agak sedikit kesal melihat laki-laki yang gak lanang terutama pada bidang IT.
Contoh cowo

Contoh lanang

Orang-orang seperti Gojo satoru yang gila emang nggak banyak, tapi biasanya yang gila kaya gini, mentalnya kuat alias lanang.
Pada kasus perkuliahan ini, saya gak bilang bahwa semua orang harus bisa coding, apalagi semua pria. Saya paham bahwa ada pria yang bakatnya bukan di coding, tapi jujur, saya kurang srek sama yang nggak mental gila-gilaan mirip gojo. You can disagree, it's your choice, tapi imo, selama dirimu masih ada kewajiban untuk jadi mahasiswa IT dan punya tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan sebagai mahasiswa, lakukanlah pekerjaan tersebut dengan mental Gojo satoru.
Kita akan selalu ketemu error, dan itu hal yang wajar, tapi ketika kita nyerah, di saat itulah kita kalah. Jadi yang membuat kita kalah itu bukan karena kita gagal, tapi karena kita nyerah.
Gak Harus Cepat, Tapi Sampai
Itu yang namanya belajar, saya bilang ke mahasiswa saya yang ngerasa minder karena gak ngerti-ngerti, saya cuma tanya:
๐จโ๐ป : Kalau kamu pulang abis ini, kamu fokus belajar selama 1 jam, kamu bisa nggak meningkatkan kemampuan kamu?
๐จโ๐ : Bisa pak tapi gak banyak
๐จโ๐ป : No, No, No, No, focus on the question. Saya gak nanya banyak atau tidak, pertanyaannya bisa atau tidak?
๐จโ๐ : Bisa pak
๐จโ๐ป : Besoknya kamu lakuin lagi, fokus belajar selama 1 jam, bisa gak meningkatkan kemampuan kamu?
๐จโ๐ : Bisa pak...
๐จโ๐ป : Nah, kamu aja udah mengatakan bisa, maka jangan denial. Buang distraksinya. Sosmed bikin distraksi? Hapus. Mobile legends bikin distraksi? Hapus! Kamu ninggalin Mobile legends 2 season juga gak tutup mereka malah makin kaya, usernya makin banyak. Tapi kamu? Kamu gitu-gitu aja kalau masih jadi orang yang sama.
Ya begitulah kurang lebih ceramah no jutsu yang saya lakukan.
Mahasiswa itu kebanyakan malah mikirin banyak atau sedikitnya hasil belajar yang mereka lakukan, padahal slow progress is still a progress. Saya aja belajar untuk nyobain raspberry OS di Virtualbox, coba konekin monitoring grafana, dan habis sampai berjam-jam (kurleb 3-5 jam), apakah progressnya banyak? Jujur aja enggak, tapi saya puas nggak? Ya puas lah, orang jadi terjawab pertanyaan-pertanyaan saya walaupun belum semuanya terjawab.
Kalian yang baca ini, sadar diri aja, kalau kalian memang lemah logicnya, butuh 2-3x ngelakuin agar bisa, maka lakuin 2-3x, kalau butuh 5x ya tetep lakuin, karena yang penting itu progressnya, bukan kecepatannya.
Semua orang bergerak pada time frame mereka masing-masing, tapi kalo kalian aja menyerah, ya berarti bener kata haters kalian, kalian emang nggak mampu dan layak jadi pecundang. So, mau dengerin haters kalian? Kalo saya sih ogah.
Harus kita bantai haters kita, soalnya kalo gak ada mereka, kita gak bisa sampe disini ๐คญ




